JAKARTA (NN).– Dalam peringatan Puncak Hari Guru Nasional 2025, tiga sosok pendidik menunjukkan bahwa keteladanan dapat lahir dari mana saja: dari sekolah luar biasa di Aceh, pelosok daerah 3T Sumatra Selatan, hingga rumah belajar sederhana di Banyumas, Jawa Tengah. Mereka adalah Syifa Urrachmah, Koko Triantoro, dan Umi Salamah—tiga penerima Anugerah Guru Indonesia 2025 yang hadir membawa kisah pengabdian luar biasa.
Penghargaan Anugerah Guru Indonesia 2025 diberikan kepada guru, tenaga kependidikan, dan tokoh masyarakat yang konsisten menunjukkan komitmen, inovasi, serta kontribusi transformatif demi terciptanya pendidikan bermutu bagi semua. Ketiga penerimanya membuktikan bahwa dedikasi dapat mengubah hidup banyak orang.
Syifa Urrachmah: Membuka Akses Teknologi bagi Siswa Disabilitas
Syifa Urrachmah, guru muda penyandang disabilitas netra dari SLBN Banda Aceh, menerima anugerah sebagai guru pejuang disabilitas. Ia menyadari bahwa kemajuan teknologi harus dapat diakses oleh seluruh siswa tunanetra, agar mereka mampu bersaing di dunia yang kian digital.
“Siswa tunanetra membutuhkan pengetahuan tentang teknologi agar bisa melangkah lebih jauh,” ujar Syifa.
Kini menjadi guru PPPK, Syifa terus memperjuangkan pendidikan inklusif dan mendorong para penyandang disabilitas untuk berani membuka diri.
“Keterbatasan bukan penghalang. Ketika kita mau membuka diri, dunia pun akan menyambut kita dengan hangat,” tuturnya.
Koko Triantoro: Mengajar, Bergerak, dan Mengatasi Kesenjangan
Dari pelosok Sumatra Selatan, Koko Triantoro—Kepala SDN Embacang Lama—menerima anugerah guru garda terpencil. Pengalamannya mengajar di berbagai wilayah, dari Nusa Tenggara Timur hingga Kalimantan, membuatnya melihat langsung kesenjangan fasilitas pendidikan.
Melihat keadaan itu, sejak 2017 Koko tergerak melakukan berbagai inisiatif: kampanye pembangunan jembatan, penyediaan perahu pendidikan, hingga program pemberantasan buta aksara.
“Saya ingin meminimalkan kesenjangan yang ada,” kata Koko.
Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah, termasuk pengiriman smartboard ke sekolah-sekolah 3T.
“Guru tak hanya mendidik anak, tapi juga harus peka terhadap kondisi di sekelilingnya,” tambahnya.
Umi Salamah: Tiga Dekade Mengabdikan Rumahnya untuk Pendidikan Nonformal
Di Banyumas, Umi Salamah, Kepala PKBM Banyumas, menerima anugerah guru pejuang pendidikan nonformal dan inklusif. Lebih dari 30 tahun, ia membuka rumahnya sebagai ruang belajar untuk PAUD, kelas paket, pendidikan inklusif, hingga perguruan tinggi.
“Dulu, rumah saya seperti kampus. Pagi untuk PAUD, sore untuk S1, sementara paket A, B, dan C belajar di gedung SD,” ungkap Umi.
Kini, ia telah membangun gedung PKBM secara swadaya dan merintis Pondok Pesantren ABK untuk menjawab kebutuhan anak berkebutuhan khusus di wilayah yang dulu tidak memiliki layanan SLB.
Umi berharap perhatian terhadap guru PAUD dan tutor nonformal semakin diperkuat.
“Kami sama-sama guru, tetapi masih banyak yang belum mendapat kesetaraan. Namun saya bersyukur pemerintah kini semakin memperhatikan kami,” ujarnya.